Semacam Gerakan Desa Membangun #GDM

Kali ini ada undangan di balai desa, ” Sosialisasi Teknis Pelaksanaan Hutan Desa”
Selsasa 17 Juli, di desa Jetis, Saptosari.

Saya melihat semacam kegiatan Gerakan Desa Membangun (GDM) di Banyumas namun kali ini berbasis pemberdayaan hutan rakyat.

Meski berplat merah, kerjasama Kementrian Kehutanan dan Kementrian Dalam Negeri.

Turut hadis perwakilan 4daerah dari 4Provinsi sebagai pilot projek. 1 perwakilan dari desa di Kabupaten Gianyar Bali. Mereka sukses merehabilitasi sumber air utama. Dengan program utama “pohon asuh”. Menanam pohon buah, dengan tambahan biaya perawatan tahunan, kemudian pohon tadi diberi nama sesuai nama yang menanam. Sesuatu yang menarik. Hutan itu tidak boleh diambil kayunya. Hanya hasil buah dan pariwisata yang boleh dinikmati. Untuk penjaga hutan mereka mengandalkan relawan hutan yang dibentuk oleh lembaga adat setempat. Dan mampu berjalan sangat baik hingga sekarang.

Daerah kedua adalah sebuah desa di Kabupaten Merangin Jambi, sebuah hutan cagar alam, saya lupa detailnya. Yang saya ingat mereka terkagum dengan teknologi terasering yang telaj menjadi teknologi warisan di hutan Gunungkidul.

Desa ketiga berlokasi di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Mereka mengelola pusat sumber air yang berada di hutan perawan. Dan bersama masyarakat desa terus berupaya menjaganya.

Desa terakhir adalah desa Jetis, lokasi KKN 77 UIN JOGJA. Dengan potensi pemanfaatan tanah AB yang masih belum termanfaatkan menjadi hutan desa. Tanah AB adalah tanah negara. Kemudian nanti akan di sertifikatkan atas nama kelompok tani pengolah tanah AB dengan masa berlaku 25-35 tahun.

Projek ini didesa Jetis dibiayai pemerintah dengan modal awal untuk biaya bibit, perawatan selama 2 thun. Target di desa Jetis akan ditanami pohon Jati, Mahoni Akasia. Kemudian bagi hasil hutan antara kelompok tani, desa, dan BUMDES.

Sekian
Regard
Gerakan JGOS