Menengok Indonesia dari Sudut Penyabungan

ah, aku emang pengutip saja. Masih cerita Bang Farhan (Blek) dari perjalanan panjangnya Jakarta-Aceh-Jakarta demi hadir di ILC Aceh 2013. Ini cerita ketika ia pulang, melewati penyabungan.

[0] Tautan Sumber

“Om, om dari mana?”

Saya biasa menerima pertanyaan semacam itu setiap kali saya nangkring di antah berantah. Sama seperti saat saya kehujanan, kemaleman, dan tempat berteduh saya hanyalah sebuah kios kecil yang menjual sirup markisa di pinggir jalan yang membelah kebun sawit. Hanya saja, kali ini yang bertanya adalah anak lelaki kecil. Dengan logat melayu yang kental sekali.

“Dari Sabang, pulau Weh.” Umurnya sekitar 9-10 tahunan, tidak ada rasa takut sama sekali di wajahnya. Hanya penasaran yang ada. Mungkin dia heran, Nicholas Saputra kok bisa nyasar ke rumahnya. Saya yakin itu yang benar. Soalnya, ibunya lebih bersikap kaget saat saya mesen sirop, macam lihat genderuwo kehujanan.

“Naik kereta, om?!” Saya mengangguk. Di Sumatra, sepeda motor lebih sering disebut kereta dalam bahasa Indonesia. Bahasa daerahnya? Honda. Sama seperti pasta gigi yang kita sebut Odol, padahal Odol itu merk.

“Om sendiri saja?” Saya kembali mengangguk. “Om mau ke mana? Nggak capek om” Cecarnya lagi.

“Om mau ke Jakarta, capek? Ah, ya capek. Tapi kalau kita senang, nggak apa-apa capek.”

“Ke Jakarta berapa lama, om? Om rumahnya di mana? Di Jakarta?”

“Yaaa… Dari sini mungkin empat sampai lima hari.”

“Wah, hebat om, berarti om sering ketemu presiden ya om? Senang dong om!”

Saya ingin mengatakan kalau iring-iringan presiden lewat di tengah kemacetan jalan di Jakarta, bahwa mungkin sayalah orang pertama yang didorong ke selokan terdekat. Tapi, anak kecil ini segera menyambung: “Awak juga mau om! Bisa foto-foto, terus minta tanda tangan. Asik om! Eh, om tau, awak pernah ketemu gubernur loh om! Om, gubernurnya jakarta siapa?”

“Ada, namanya Jokowi.”

“Orang Jakarta om?”

“Iya, dulu orang Jawa, sekarang orang Jakarta.”

“Oh, iya, presiden yang sekarang juga orang Jawa kan om? Awak diajari di sekolah nama-nama presiden om! Sukarno, Suharto, Megawati… Orang jawa semua ya om?”

“Nggaklah. Ada presiden kita yang bukan orang Jawa.”

“Siapa om?”

“Habibie. Itu, yang jago bikin pesawat. Dia orang dari pulau Sulawesi.”

“Ooh, Sulawesi! Awak tau, itu dekat sama pulau Toba kan om? Awak pernah ke pulau di Toba om!”

Saya ingin bercerita panjang lebar tentang pulau Samosir dan letak Sulawesi tapi karena saya bukan Batak, Bugis, Mandar, atau Makassar, itu bukan urusan saya. Jadi saya hanya menjawab, “Yah, ke timur dikit lagi lah.”

“Jadi satu saja om, yang dari bukan Jawa? Sedikit ya om…”

“Makanya, belajar yang rajin. Biar nanti kamu jadi presiden kedua Indonesia yang bukan orang Jawa. Yang dari Sumatera. Keren nggak tuh? Bosan kan, presiden orang Jawa terus setelah pak Habibie?”

“Iya om, Bosan! jadi awak bisa jadi presiden?”

“Bisalah. Nanti kamu bisa foto-foto bareng diri sendiri, minta tanda tangan dari diri sendiri. Presiden kan? Hahahahahaaa!”

“Hahahahahaaa!” Dia mengikuti cara saya tertawa, lengkap dengan muka yang mendongak ke atas.

“Hahahaha…” Tawa ketiga yang samar terdengar, kami berdua menoleh. Rupanya ibunya yang tertawa.

“Sebenarnya kami juga dari jawa, bang…”

#fakfakfak — in Panyabungan, Sumatera Utara.

[1] Ah, Jakarta itu bukan bagian dari Jawa….

Regard
Tuan Pembual