Taipei, openSUSE Asia Summit, Power of Community

 

When you’re planning a trip to Asia, Taipei probably isn’t be the first destination that comes to mind, as it’s often ignored in favor of more popular tourist spots like Tokyo or Hong Kong. But don’t ignore a trip to Taiwan’s big city — it’s an inexpensive, quirky metropolis with some of the best night markets in all of Asia. This is the second time i’ve visited Taipei for openSUSE Asia Summit.

FYI, The last openSUSE.Asia Summit was held in Tokyo, Japan.

Here we go. Me and the famous Mr. gecko!!

Thursday 9 Aug, Day -1 (Travel to Taiwan)

This time, 14 people came from Indonesia to join openSUSE Asia Summit 2018 in Taipei. We divided to 3 groups. One group flight from Juanda Surabaya (Darian, Aftian, Joko, Rania). One group at morning flight from CGK (Haris, Edwin, Estu). Last group with afternoon flight from CGK (Kukuh, Didiet, Rifki, Yan Arief) And 3 others people; Tonny, Iwan Tahari, Siska join a separate flight.

My group is the first team landing in Taiyuan Airport. At international arrival gate, Franklin Weng pick us up to hostel, but we decided to visited Frank office before going to Hostel. We meet Eric Sun and their team. Artistic team who create video for opening ODF Reader on Android. The video created using Blender Software.

22.00 we arrive at hostel. Many thanks to Frank for deliver us. :D. A few hours later, 2 more groups arrived at hostel. We are stay at same hostel. A comfort dormitory with share room. First Hostel, not far from Daan Park. Let call it a day and sleep all the night.

Friday 10 Aug, Day 0 (openSUSE Board and Community Meetup)

Today we plan join meetup at Taiwan SUSE Office after Friday Prayer. We visited Taiwan Grand Mosque, not far from Daan Park and our hostel. Before Friday Prayer, we take breakfast at Sakura Canteen (with Indonesian Food), next to Taiwan Grand Mosque. After praying, we going to SUSE office by walk. We came late to SUSE office, after lost direction. What a day!

Main discussion on SUSE Office

We meet openSUSE boards, SUSE Beijing and SUSE Taiwan, openSUSE Japan, openSUSE Taiwan; Ana Martinez and Simon, Sunny and team, Alcho and team, Takeyama and team, Sakana etc. You can watch meetup video from Sakana here.

Continue reading “Taipei, openSUSE Asia Summit, Power of Community”

Advertisements

Konfigurasi LB gRPC Service dengan HAProxy

2018-04-05 15.07.23

Kemaren diminta setting load balancer di HAProxy untuk gRPC Service.
Panduan ini saya nyomot dari https://grpc.io/blog/loadbalancing dan https://gist.github.com/thpham/114d20de8472b2cef966

Desain service kira-kira seperti ini:

Springboot-Service(API) <—> HAProxy <—-> gRPC Server 1 & gRPC Server 2

Kasusnya adalah:

  • Traditional setup – Many clients connecting to services behind a proxy
  • Need trust boundary between servers and clients
  • Metode pembagian beban adalah roundrobin
  • HAProxy dipasang dimesin yang sama dengan gRPC server 1.

Solusi yang diambil:

  • L3/L4 LB with haproxy.

Installasi dan Konfigurasi

$ sudo apt install haproxy

Berikut konfigurasi yang saya gunakan dengan perubahan seperlunya termasuk mengatur status load balancer (Dashboard HAProxy).

global
  tune.ssl.default-dh-param 1024

defaults
  timeout connect 10000ms
  timeout client 60000ms
  timeout server 60000ms

## Pengaturan Dashboard HAProxy
listen stats
  bind :1936
  mode http
  log  global

  stats enable
  stats uri /stats
  stats refresh 15s
  stats show-node
  stats hide-version
  stats realm Haproxy\ Statistics
  stats auth user:password

frontend fe_http2
  mode tcp
  ## alamat binding gRPC yg akan diakses oleh Springboot-Service
  bind 192.168.33.100:6668 npn spdy/2 alpn h2,http/1.1
  ## alamat routing backend
  default_backend be_grpc

backend be_grpc
  mode tcp
  balance roundrobin
  ## daftar gRPC service yang akan menerima LB dari HAProxy
  server prod-service-020 127.0.0.1:6667
  server prod-service-021 192.168.101:6667

Setelah konfigurasi dirasa cukup, lakukan testing konfigurasi HAPRoxy dengan perintah berikut.

$ sudo haproxy -c -f /etc/haproxy/haproxy.cfg

Jika udah ijo, lakukan restart haproxy.

$ sudo systemctl restart haproxy

Demikian.
Estu yg lagi dolanan Mattermost

Kombinasi Tail dan Grep

eiffel.di.blankon.in

Ah susah ini nyari judul yang pas, searchable, googlingable. Kasusnya adalah seperti ini. Saya butuh mencari baris yang mengandung kata kunci tertentu pada file logs streaming.

Berarti butuh perintah tail -f /path/to/log dan di grep hasilnya.

$ tail -f FILE | grep PATTERN | tail -f -n10

Namun kenyataannya, perintah diatas tidak mengeluarkan hasil apapun. Hasil utak-atik kata kunci di mesin pencari membawa pencarian saya di halaman Stackoverflow.
Berikut format solusi yang bisa digunakan:

$ grep PATTERN FILE | tail -n10; tail -f -n0 FILE | grep PATTERN;

Contoh:

$ grep user_subject_attributes /var/log/production.log | tail -n10; tail -f -n0 /var/log/production.log | grep user_subject_attributes;

Selamat berburu logs!!

Estu~

Logrotate | Bersih-bersih Kapasitas Hardisk

logs

Biasanya, yang membuat hardisk server penuh adalah ukuran log yang membesar tiap harinya tanpa diurusi. Harusnya ada manajemen log.

Apa yang harusnya dilakukan pada log?

  1. Memecah log dalam satuan waktu, misal log pertanggal dengan format tanggal ISO (*-YYYYMMDD.log).
  2. Menghapus log lama otomatis, misal log 7 hari yg lalu akan dihapus.

Implementasi ?
Logrotate.

Berikut contoh konfigurasi yang biasa saya lakukan:

  • Install logrotate.
    $ sudo apt install logrotate
  • Atur konfigurasi logrotate.
    /path/to/log {
        daily
        missingok
        rotate 7
        size 100M
        compress
        delaycompress
        notifempty
        create 0640 user user
        sharedscripts
    }
    
  • Testing Logrotate
    $ sudo logrotate -vf /etc/logrotate.d/{{ app_name }}
  • Restart service cron

Kalau ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar. Sekian.

Estu~

Mengoreksi Kapasitas Hardisk Sistem Operasi

Tumis-Tempe
ps: foto tak ada hubungan sama isi postingan

Nah ini sebenarnya sering saya lupa, tapi nyari pas butuh. Mesin penuh, service matik.

Nyari pembagian partisi

# sudo fdisk -l

Nyari kepastian ukuran partisi yang terpakai

# sudo df -h

Nyari ukuran folder pada posisi $(pwd)

# sudo du -sh

Nyari list ukuran deretan folder, demi mengetahui folder mana yang menghabiskan space paling besar

# sudo du -h --max-depth=2 .

Sepertinya itu aja kali ini. Lanjut cara benerinnya diposting selanjutnya. Kalau ada nemu yg lain nanti, akan saya tambahin disini.

Estu~

Upgrade BlankOn Tambora Menjadi BlankOn Uluwatu

Screenshot from 2017-11-13 16-40-47

CATATAN: RESIKO DITANGGUNG SENDIRI.
Penulis tutup mata jika langkah-langkah dibawah ini mengakibatnya keharusan memasang ulang OS di Laptop/PC masing-masing.

Ini adalah surhatan saya. Langkah berikut adalah pengalaman penulis, tidak ada jaminan akan berlaku sama jika diuji orang lain.

Berawal dari; oleh karena suatu sebab musabab, repo Tambora tidak lagi sehat dan beberapa kerjaan saya membutuhkan paket-paket lain. Jadi intinya saya g bisa masang-masang tools buat ngetik aneh-aneh.

Diputuskan: DIST-UPGRADE ke Uluwatu

Kondisi:
Laptop Thinkpad X260, terpasang BlankOn Tambora 64bit.

Karena dipakai kerjaan, jadinya proses ini saya cicil harap-harap cemas.

Step-step nya adalah:

  1. Ganti repo menuju Uluwatu.
    deb http://arsip-dev.blankonlinux.or.id/blankon uluwatu main restricted extras extras-restricted
    
  2. Update dan install kernel baru. Reboot setelah itu.
    sudo apt install linux-headers-amd64 linux-image-amd64
    
  3. Benerin applikasi yg ngaco gegara upgrade kernel (wifi install ulang driver dan virtualbox upgrade sekalian). Reboot setelah itu.
    sudo apt-get install firmware-iwlwifi --reinstall
    sudo sh VirtualBox-5.1*
    
  4. Upgrade aplikasi yg biasa dipakai. Bisa disorting via sudo apt list --upgradable. Aplikasi yang saya upgrade sebangsa Firefox, terminator, calibre dkk. Beberapa paket compiler juga.
    sudo apt install lsb aptitude inkscape vim zsh s3cmd zsync make sudo rsync build-essential tzdata openssh-client nano tar unzip audacious automake firefox xchat curl gedit dpkg gedit git reprepro terminator time wget tree sed bash whois p7zip openssl samba mount unrar mc net-tools nmap cron debootstrap gparted lsb
    
  5. Hapus paket yang bentrok. VLC saya hapus.
    sudo apt remove vlc
    
  6. Kalau sudah yakin, kita mulai dari upgrade. Dalam proses ini ada beberapa pertanyaan terkait ada config yang berubah seperti lsb-release. (Saya lupa yg lain, ada 2-3 kali).
    sudo apt upgrade
    
  7. Lanjut dengan dist-upgrade. Setelah selesai, silahkan reboot. Jangan lupa berdoa (beneran harap-harap cemas ini)
    sudo apt dist-upgrade
    

Step-step setelah selesai dist-upgrade dan masalah-masalah yang timbul:

  1. Bersihkan sisa-sisa paket
    sudo apt clean && sudo apt autoremove
    
  2. Benerin driver touchpad.
    sudo apt install xserver-xorg-input-libinput --reinstall &&
    sudo apt remove --purge xserver-xorg-input-synaptic
    
  3. Atur tap dan natural scrolling dari panduan ini.
    sudo modprobe -r psmouse
    sudo modprobe psmouse
    

    Kemudian buka gnome-control-center, atur sesuai kebutuhan (enable tap dan natural scrolling)

Sudah, itu saja yang saya lakukan.

Beberapa kutu yang masih ada adalah:

  1. Tampilan grub masih biru bawaan Debian, berbeda dari Tambora yg sudah ada khas logo BlankOn di pojok kanan.
  2. Network applet belum muncul.
  3. Paket VLC rusak.

Menuju RC3. Yay!!
Estu, yg mumet mainan Tsung.

RVM over SSH

Bukan materi baru, cuma baru nemu aja solusinya setelah mikir dua hari.

Kasus:

  • Delpoy Ruby on Rails via ssh
    laptop$ ssh estu@ip-mesin "cd ~; deploy.sh"
    
  • Ruby dibantu rvm.

Kendala:

  • Log stdout:
    bundle not found
    

Mitigasi:

Di server via login langsung:

server$ echo $PATH

Ouput tidak sama dengan ‘echo PATH’ dari ssh:

laptop$ ssh estu@ip-mesin "echo $PATH"

Solusi:

    1. Set env dari .bashrc ke /etc/environment. Samakan hasil “echo $PATH”. Kira-kira begini:
      PATH="/home/ubuntu/.rvm/gems/ruby-2.3.3/bin:/home/ubuntu/.rvm/gems/ruby-2.3.3@global/bin:/home/ubuntu/.rvm/rubies/ruby-2.3.3/bin:/home/ubuntu/bin:/home/ubuntu/.local/bin:/usr/local/sbin:/usr/local/bin:/usr/sbin:/usr/bin:/sbin:/bin:/usr/games:/usr/local/games:/snap/bin:/home/ubuntu/.rvm/bin"
      export GEM_PATH=/home/ubuntu/.rvm/gems/ruby-2.3.3:/home/ubuntu/.rvm/gems/ruby-2.3.3@global
      export GEM_HOME=/home/ubuntu/.rvm/gems/ruby-2.3.3
      
    2. Disable env dari .bashrc.
    3. Reboot
    4. Tambahkan opsi –login pada baris ssh dan sederhanakan opsi perintah
      laptop$ ssh estu@ip-mesin  bash --login "./deploy.sh</code>"
      

 

Dah gitu aja.

Selamat istirahat.
Estu~