Anak Marganya Apa

Dongeng Farhan lain

“Anak marganya apa?”

“Nggak punya, mak.” Sahut saya sambil menyerahkan lima ribu rupiah untuk membayar sebotol air nira dingin. Pertanyaan ini sering sekali ditanyakan ke saya sepanjang jalan di Sumatera Utara.

“Abang marga apa?”

“Kak, marganya apa?”

“Om…! Om…! Om marganya apa?”

Atau misalnya saat saya minta oli buat ngelumasin rante di bengkel random,

“Yang botol biru ini ya? Makasih ya bos…”

“Santai aza lae, eh, lae…!”

“Ya?”

“Marga kow apa, lae?”

“Saya ga punya marga, bos. Saya dari NTB.”

“Oh? Deli ya?”

Saya bingung, perasaan pengucapan saya lengkap dan jelas, dan orang ini paham bahasa Indonesia, tapi saya iya-iyain aja. Siapa tau kalau bukan orang Deli, oli rante ini harus bayar. Begitu pula saat saya ngopi di warung random di pinggir jalan, dan ngobrol dengan yang punya warung,

“Hah? Dari Aceh kow? Alamak, zauh kali zalanmu ya, keluarnya kow di Berasstagi pasti ya dek?”

“Iya pak, tembus Stabat, terus nyasar kemari.”

“Bah, asek ya, keliling-keliling Sumatera. Eh, kow dari mana?”

“Dari NTB, pak.”

“Oyaya, marganya kow apa?”

“Nggak punya, pak.”

“Ah,cam mana bisa! Zangan becandalah kow dek. Memangnya orang tuamu orang apa? Ikut marga merekalah kow…”

“Orang Indonesia pak, mereka juga nggak punya marga.”

“Oh, ya, berarti adek orang Deli, ya?”

“Hahaha…! Mungkin. Kalau bapak? Batak?”

“Eh…! Bukan Batak aku! Aku Mandeiling, margaku Nasution!”

Saya curiga, manusia-manusia miskin marga di tanah Sumatera Utara ini pastilah hanya orang-orang Deli. Bahkan orang Mandailing yang nggak mau disebut Batak saja punya Marga.

Sampai saat saya lewat di Zephyro… Eh, Sipirok maksudnya. Kalau Zephyro itu adalah dunia ajaib dalam Magic Knight Rayearth, penuh dengan hewan buas seperti naga dan sebangsanya, plus ada gunung-gunung yang melayang. Mirip-mirip lah, secara Sipirok itu kemungkinan besar versi Bataknya. Penuh pula dengan hewan-hewan buas yang nomor polisinya berawalan BK, dan karena ATM saya baru saja hilang, pikiran saya yang lagi melayang kemana-mana. Jadi, ketimbang nggak konsen terus dimangsa naga, eh… plat BK, lebih baik saya mabuk kopi di lapo.

“Ah, cam mana sih kow bang, rambutmu saaza yang gondrong, yang kow mampu cumak kopi! Hahahaha!” Okelah, lengkap kali penderitaanku bah, sekarang, anak gadis pemilik lapo ini mentertawakanku. Tuh kan, bahkan gaya tulisanku ini sekarang bernada Batak. Menular logat ini rupanya…

“Bukan begiitu, Ito. Aku pesan kopi Manndeiling ini karena sayangnya aku sama barang ekspor. Sebelum kopi Manndeiling habis karena dibeli terus sama orang luar, harus kunikmati. Kalok tuak cam mana bisa habis…?! Cam bikin sumur di tengah Samosir, tak kering-kering bah!”

Satu lapo tertawa.

“Hahahaha! Lucuk kali abang ini. Gue sukak gaya lu, abaaang!” Dia tertawa kemudian melanjutkan, “Eh, abang bermarga apa?”

Saya sudah bosan jadi orang Deli, dan sepertinya NTB kurang terkenal di sini, plus, punya marga sepertinya lebih meningkatkan derajat kegantengan.

“Sugihartomangunsastrowardoyo…” Jawab saya. Lengkap dengan medok-medoknya.

“Wah! Abang orang Deeli rupanyaaa…!” — in Mukomuko, Bengkulu.

Regard
Tuan Pembual

Advertisements

Menengok Indonesia dari Sudut Penyabungan

ah, aku emang pengutip saja. Masih cerita Bang Farhan (Blek) dari perjalanan panjangnya Jakarta-Aceh-Jakarta demi hadir di ILC Aceh 2013. Ini cerita ketika ia pulang, melewati penyabungan.

[0] Tautan Sumber

“Om, om dari mana?”

Saya biasa menerima pertanyaan semacam itu setiap kali saya nangkring di antah berantah. Sama seperti saat saya kehujanan, kemaleman, dan tempat berteduh saya hanyalah sebuah kios kecil yang menjual sirup markisa di pinggir jalan yang membelah kebun sawit. Hanya saja, kali ini yang bertanya adalah anak lelaki kecil. Dengan logat melayu yang kental sekali.

Continue reading “Menengok Indonesia dari Sudut Penyabungan”

ILC 2013 Aceh dan KPLI Meeting

ini tulisan tentang suasana ILC Aceh kemaren yang saya comot dari Foto saudara Muda Bentara.
[0] Tautan tulisan aseli.
ILC Aceh 2013

Suasana KPLI Meeting tadi malam. Di foto ini terlihat para anggota pegiat linux dan open source Indonesia sedang mendengarkan paparan dari Blek (Farhan Perdana), perwakilan KPLI NTB (Komunitas Pengguna Linux Indonesia NTB) di ILC 2013 (Indonesia Linux Conference) yang tahun ini KPLI Aceh sebagai tuan rumah.

Blek adalah peserta ILC 2013 yang paling militan, ia menghabiskan perjalanan selama 4 hari dari Jakarta ke Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor Supra Fit 110 cc. Dalam perjalanannya itu, Blek tidak menggenakan tas dan semua barang-barangnya ia masukkan ke dua kantong kresek berwana biru dan ia sangkutkan di kedua sisi kendaraannya.

Di motor Supra Fit-nya itu, blek juga membawa sebilah bambu, bambu itu ia gunakan sebagai tiang pengibar bendera komunitas KPLI NTB-nya selama perjalanan dari Jakarta ke Aceh.

Kata Blek, selama menempuh perjalanan ribuan kilometer itu, ia sempat tidur di kepun kelapa sawit ketika melewati jalan trans Sumatera. Kateka ia tidur, kata Blek ia hanya bermodal selembar kain sarung yang ia bawa.

Di foto ini, terlihat Blek sedang menunjukkan peta kampungnya di Dompu NTB dan menunjukkan jalur perjalannya dari sana menuju acara ILC di Aceh.

Di akhir KPLI Meeting ini, pihak KPLI Aceh beserta KPLI Bekasi, KPLI Sinjai Sulawesi Selatan, KPLI NTB dan beberapa KPLI lainnya menyepakati beberapa rumusan kesimpulan dari acara puncak ILC Aceh 2013 yang dilaksanakan kemarin (14/09).

Di penghujung acara KPLI Meeting ini, para perwakilan KPLI se-Indonesia juga melaksanakan pengukuhan kepada perwakilan KPLI Sinjai Sulawesi Selatan sebagai tuan rumah ILC 2014, dan juga penunjukan KPLI Tegal Jawa Tengah sebagai tuan rumah ILC 2015.

Tapi ada hal yang patut disayangkan, dalam pelaksanaan ILC Aceh 2013 kali ini pihak pemerintah daerah tak berminat untuk berkontribusi dan tak mau berkontribusi, padahal dalam rumusan pertumbuhan ekonomi, setiap pertumbuhan perkembangan dunia TI selalu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah daerah kita masih menggilai ranah-ranah politis, sehingga lupa untuk berpikir jika semua negara maju dan pengusaha besar di dunia adalah negara-negara dan orang-orang yang memiliki latar belakang bisnis di industri kreatif.

Pada tahun 2008, hanya dunia IT di Amerika yang tak terimbas krisis Subprime mortgage, selain industri berbasis IT, semuanya tumbang.

Daerah kita penguasa dan pengelola pemerintahannya terlalu politis, hingga melupakan dunia kreatif.

Regard
Tuan Pembual

Bandrek Susu bareng Blek, Petualang Motor Menuju ILC2013 Aceh

Lanjutan dari posting sebelumnya.

Setelah dapat sms dari orang ajaib ini, segeralah meluncur ke Wisma Cempaka, eh orangnya g bisa dihubungi. Ngeyel masuk ke wisma dan nanya,
“ada tamu atas nama blek? | g ada bang | kalo Farhan | Oh, ada.”

Menuju ke kamarnya, digetok berkali-kali g ada sahutan, diintai dengan room servis, sepertinya blek lagi keluar. Ya sudah kita menunggu saja pinggir jalan. 30 menit kemudian sms masuk, “saya ditukang tambal ban sebelah pemadam kebakaran” (ini orang mencelatnya aneh-aneh)

Meluncur lah ke tukang tambal ban, eh orangnya malah sudah balik ke wisma :D. Dan kita balik lagi ke wisma, ketemu salaman. Nongkrong dolo ah.

Warung tujuan Warung Bandrek pinggir jalan depan Pasar Kodim. Mesen Bandrek, nasi goreng. Kebulan asap ngepul, maka cerita siap keluar dari Kakak Blek. Kopdar ini bertambah 2 orang lagi, tambahan Kakak Blek dan Ketua KPLI Pekanbaru.

*eh, cerita lucu hari sial kk blek 10/9/2013 ini untuk rahasia saja, terlalu mainstrem untuk diceritakan bagian ini.

Jadi Blek adalah salah satu perserta KPLI Meeting yang rencananya akan hadir di ILC 2013 Aceh, 14-15 September besok. Secara kepengurusan Blek adalah anggota KPLI Kaipang NTB. Hal yang spesial kali ini karena ia melewati 3 pulau untuk sampai di Aceh.

Estapet pertama dengan Burung Besi menuju Jakarta. karena saweran cuma cukup sampe Jakarta. Perjalanan selanjutnya ditempuh Jakarta-Aceh dengan  Sepeda motornya, bebek supra. Start tanggal 7/9 kemaren. Ini bagian yg ekstrimnya, Sendirian melewati lintas timur dan nggembel. Tapi alhamdulillah sudah sampe Pekanbaru. Kehujanan dan kamera basah.

Penampilan khas kakak Blek
Penampilan khas kakak Blek

Beberapa video perjalanan

Regard
Tuan Pembual

Kabar ILC 2012 Malang dan KPLI Award

Pasukan jogxer hadir di acara ILC 2012 Malang. Dari jogja berangkat jumat malam dengan 8 pasukan via bus. Kemudian disusul pasukan pinguin kusuka 6 orang via mobil pribadi. Ternyata pasukan synaptic sudah sampai duluan.

image

Acara inti adalah KPLI Meeting. Ada sekitar 15 tim utusan. Hasil utama. ILC 2013 akan diadakan di Aceh dan beberapa poin lainnya.

Kemudian dilanjutkan dengan penganugrahan KPLI Award. Dan….
Pemenang anugrah KPLI Award 2012 dianugrahkan kepada….
KPLI Jogja. Kriteria yg dipilih karena berhasil mengirim utusan sebanyak 16 lebih. Dan tak ada yang menyamai peserta dari Jogja.
Piala langsung diberikan oleh pak Rusmanto.

Selamat yah buat KPLI Jogja.
Trimakasih buat semua temen yang udah datang.

Regard
Jogja Linuxer